0882022044248
Iklan DPRD Berau

Perbakin Kaltim Lakukan Transformasi Besar: Fokus Baru di Nomor Berburu dan Tembak Reaksi

$rows[judul]

Meditama.id, BALIKPAPAN – Gagal bersinar di ajang PON XXI/2024 dengan hanya membawa pulang satu medali perak, Pengprov Perbakin Kalimantan Timur memilih tidak tinggal diam. Sebaliknya, momentum ini dijadikan titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan menyusun ulang strategi pembinaan yang lebih adaptif terhadap potensi riil yang dimiliki daerah.

Dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) yang digelar Sabtu (24/5/2025) di Hotel Astara, Balikpapan, Ketua Perbakin Kaltim Roy Nirwan menegaskan bahwa arah pembinaan akan bergeser. Tidak lagi semata fokus pada nomor target, namun memperbesar porsi untuk nomor berburu dan tembak reaksi—dua nomor yang justru memberi hasil lebih nyata di PON lalu.

“Di PON kemarin, yang menyumbang medali justru nomor berburu, padahal itu bukan prioritas. Bahkan tembak reaksi sudah menembus peringkat keempat nasional. Artinya, kita perlu menyesuaikan strategi dengan kekuatan yang kita miliki,” tegas Roy.

Langkah awal dari perubahan ini sudah mulai dijalankan. Saat pelantikan pengurus Perbakin Kutai Timur, kejuaraan menembak kategori berburu turut digelar dan menghasilkan banyak talenta baru. Termasuk atlet muda potensial, serta Aretha Nathania Ramadhani Hafidzah—peraih perak PON di nomor benchrest light varmint—yang kini menjadi simbol regenerasi atlet menembak Kaltim.

“Ini bukan hanya soal medali, tapi soal konsistensi dan arah pembinaan jangka panjang. Kami ingin menumbuhkan ekosistem pembinaan yang merata di semua nomor,” jelas Roy.

Lebih jauh, Perbakin Kaltim juga mendorong peningkatan kualitas pelatihan dengan mengusulkan perekrutan pelatih nasional kepada KONI dan Dispora Kaltim. Roy optimistis, dengan sokongan pelatih berpengalaman dan strategi yang tepat, prestasi menembak Kaltim bisa bersaing di level nasional bahkan lebih tinggi.

Rakerprov kali ini juga membahas persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 di Kabupaten Paser. Salah satu isu penting adalah soal batasan usia maksimal 30 tahun di cabor menembak. Perbakin Kaltim mengusulkan pengecualian, terutama untuk nomor senjata api yang saat ini masih didominasi oleh atlet senior.

“Kalau aturan itu diterapkan penuh, banyak nomor tidak bisa diikuti karena sebagian besar atlet senjata api kita berusia di atas 30 tahun. Kami minta ada kebijakan khusus,” tambah Roy.

Dengan pendekatan baru yang lebih realistis dan berbasis kekuatan aktual, Perbakin Kaltim tidak hanya menargetkan medali, tetapi juga membangun fondasi prestasi yang berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan membawa cabang olahraga menembak Kaltim kembali bersinar, tak hanya di Porprov, tetapi juga di PON mendatang. (tim)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)