0882022044248
Iklan DPRD Berau

Suara Perlawanan kepada PenentangNicky Saputra, Ketua PWI Kaltara

$rows[judul]

Sebenarnya saya kecewa dengan adanya “kemelut-kemelut” di dalam internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat yang berdampak secara luas ke daerah – daerah. Saya juga tidak memahami persoalan – persoalan yang selama ini dimaksud. Hemat pikiran saya, kemelut-kemelut itu sudah terselesaikan bahkan terbantahkan. Rasa kecewa timbul bahkan kini menuju ke perasaan yang jenuh. Andai kata saya bisa menyatukan kembali PWI, saya akan lakukan langkah terbaik hingga terburuk. 

Mungkin saya menjadi satu-satunya Ketua PWI Provinsi termuda di era modern. Terpilih menjadi Ketua PWI Provinsi Kaltara di usia 28 tahun pada 2021. Saya tidak pernah berpikir akan duduk di tingkat ini. Mengemban sebagai Ketua PWI pikir saya berat. Banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan. Bahkan, saya bernalar menjadi Ketua PWI harus kuat mental, kuat relasi, dan kuat modal. 

PWI merupakan organisasi pers tertua di Indoneisa, tercatat sejak 1948. Hari Pers Nasional (HPN) 2025, menandakan PWI berusia 79 tahun. Jika PWI adalah manusia, bisa dibayangkan perawakan PWI saat ini seperti apa. Wajahnya, tubuhnya, dan langkahnya. Jika PWI adalah sebuah pohon, bisa dibayangkan sebesar apa dahan-dahannya. Rimbun daunnya, akar – akarnya, dan tinggi pokoknya.

Bagi warga pers PWI itu besar, kokoh, dan kuat. Tubuhnya memang sudah tua namun bukan berarti ia lemah. PWI bukan sekedar organisasi tempat bernaungnya warga pers semata. Tapi juga, PWI telah mengakar dari Sabang hingga Marauke. Organisasi pers dengan administrasi terlengkap di Indonesia. Kepengurusan PWI ada di setiap daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota. 

Sepengetahuan saya, PWI memiliki sejumlah tokoh-tokoh pers yang terkenal. Tokoh – tokoh pers ini merupakan para senior yang patut mendapat apresiasi dan wajib dikenang setiap momen HPN berlangsung. Ya, itu pendapat saya. Tokoh PWI terkenal versi saya itu yakni Rosihan Anwar, Mocthar Lubis, BM Diah, SK Trimurti, Atmakusumah Astraatmadja, dan Hendry Ch Bangun.

Di antara para tokoh PWI terkenal di atas, saya termasuk orang yang bangga bisa ikut mengantarkan Hendry Ch Bangun menjadi Ketua Umum PWI Pusat pada Kongres PWI tahun 2023 di Bandung, Jawa Barat. Meski PWI Provisni Kaltara hanya memilik satu suara, bukan berarti saya harus minder. Semangat saya adalah memenangkan Hendry Ch Bangun agar PWI Provinsi Kaltara mendapat tempat spesial di sisi Ketua Umum PWI Pusat. 

Bukan tanpa pertimbangan saya membawa PWI Kaltara kepada Hendry Ch Bangun. Bahkan pertimbangan sudah saya masak matang-matang. Tentunya ini bukan pilihan sembarang pilihan. Intinya sekali lagi, pilihan saya untuk membawa PWI Kaltara jauh lebih baik serta bisa diterima baik pula oleh pendukung-pendukung PWI Pusat dan Provinsi di Indonesia.

Kaltara merupakan wilayah ke-5 di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Posisi Kaltara yang tak sebesar Provinsi lain, turut membawa saya kepada pemikiran yang bukan mencari keuntungan semata di dalam organisasi. Sebagai warga pers di era modern, saya harus tetap jaga idealisme. Meski idealisme yang saya miliki tak sebesar idealisme warga pers lainnya. Saya sudah memilih dan pilihan tak bisa ditawar.

Di tahun pertama menjabat Ketua PWI Kaltara, saya langsung mencoba mencari eksistensi ke PWI Pusat. Tidak berhasil dan sangat tidak terlihat. Pun saya tidak sama sekali mengenal siapa – siapa saja senior di PWI Pusat, kala itu. Begitu juga dengan para ketua-ketua provinsi lainnya. Setiap kegiatan nasional, rasa-rasanya saya kesepian di tengah keramaian. 

Hingga saya tak sengaja melihat Hendry Ch Bangun berdiri di pintu acara ruangan sedang melihat suasana Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) tahun 2022 di Malang, Jawa Timur. Lalu secara tak sengaja lagi saya melihat Hendry Ch Bangun hadir di HPN Medan, Sumatera Utara tahun 2023. Ia berjalan pelan ke arah ruangan sidang-sidang komisi. Menyapa beberapa pengurus PWI Pusat. Ada juga di antaranya ketua-ketua provinsi. Lalu saya hampiri. Menyapa singkat dan menyusulnya makan siang di Rumah Makan Padang, di Medan.

Aspirasi daerah saya sampaikan secara langsung. Ia menjawab dengan tenang. Intinya semua ada jalannya. Saya salut karena sangat memahami PWI di daerah. Bukan sedikit yang saya sampaikan. Tapi sedikit banyaknya ia realisasikan saat terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2023-2029.

Program – program PWI Pusat berjalan mulus hingga ke daerah. Meski tak sempat ikut serta dalam program itu ke PWI Kaltara. Keburu kemelut organisasi datang di internal PWI Pusat. Sebagai Ketua PWI Provinsi saya tak mengambil sikap apapun. Saya percaya tim PWI Pusat dan Hendry Ch Bangun bisa menyelesaikan persoalan.

Sejumlah ketua-ketua PWI Provinsi lain kadang kala sembari menelpon. Pembahasan kami tak jauh-jauh dari kemelut PWI Pusat. Teman – teman ketua beranggapan PWI Pusat sedang dirundung masalah, Ketua PWI Provinsi kenapa berdiam diri. Adapula ketua-ketua mengajak bergerak menyelamatkan PWI Pusat dengan sejumlah opsi dan aksi. Di benak saya, apa yang sudah dilakukan PWI Pusat tim Hendry Ch Bangun merupakan cara menyelamatkan PWI, dan sudah tepat. Kenapa harus melakukan aksi brutal nan tak kesatria, bahkan penuh drama.

Konflik semakin hari semakain menjadi – jadi. Bahkan mempengaruhi kepengurusan di daerah – daerah. Administrasi tidak lagi berjalan seperti sedia kala. Singkatnya, batang tubuh yang kokoh tadi akhirnya terbelah dua. Bak peperangan di medan tempur, berita – berita dari berbagai media berselancar di media sosial. Kubu Hendry Ch Bangun diserang bertubi – tubi. Bahkan personalnya digrogoti berbagai isu negatif.

Para ketua – ketua provinsi pemilik hak suara pun sempat bungkam. Sebagian besar saya amati beridam karena kebingungan. Kenapa dan mengapa ini bisa terjadi. Ada yang menganggap peperangan antara para senior PWI sengaja ditabuhkan. Efeknya, terciptalah koloni – koloni kecil untuk melawan Hendry Ch Bangun di daerah – daerah.

Seingat saya, hampir 80 persen suara kongres berada di Hendry Ch Bangun. Ketua – ketua PWI Provinsi yang berhak menentukan pilihan ketua umum ikut terpecah belah. Ketua yang berada di gerbong Hendry Ch Bangun, diminta untuk tidak ikut dalam peperangan. Status kami stanby. Bila Tim Hendry Ch Bangun memerlukan daya serang, ketua – ketua inilah yang menjadi momok serangan balik yang kuat bagi kubu yang menentang Hendry Ch Bangun.

Tapi itu hanya sekedar analisa belaka. Buktinya, tak ada satupun ketua – ketua PWI Provinsi di pihak Hendry Ch Bangun yang menembakan bom ke kubu sebelah. Karena para ketua – ketua ini sadar, hasil Kongres PWI Bandung 2023 adalah keputusan tertinggi dalam berorganisasi. Lalu, keputusan siapa lagi yang dapat menganulir peraturan organisasi tertua itu. Sekalipun Malaikat Jibril datang untuk menyelesaikan kemelut organisasi ini, pasti akan terpengaruh dengan berbagai informasi sumbang dari kubu yang menentang Hendry Ch Bangun.

“Saya minta teman – teman (Ketua Provinsi) untuk tidak mengeluarkan berita – berita negatif kepada kubu manapun. Kita kembalikan ke asas hukum. Semua sedang berproses, negara juga tau itu,” kata Hendry Ch Bangun yang kerap ia sampaikan secara langsung maupun daring.

Selama mendapatkan serangan pemberitaan siber. Tim Hendry Ch Bangun di PWI Pusat tetap fokus dalam program kerja organisasi ke daerah. Hingga pada puncaknya HPN 2025 di Banjarmasin, sejumlah ketua – ketua pemegang hak suara di kubu Hendry Ch Bangun buka suara. Suara perlawanan kepada kubu yang menentang.

Diskusi singkat kami beberapa Ketua Provinsi sudah bulat dan sudah dipahami. PWI harus menjadi satu kembali. Apa yang diinginkan para penentang adalah bagian – bagian dari personal mereka yang tak kunjung klimaks. Ada pula karena pribadi, ego, hingga mengejar elektabilitas. Dalam diskusi beberapa Ketua Provinsi, penentang yang talah merusak harkat dan martabat organisasi harus dieksekusi. Bagi kami, para penentang hanya mengganggu nama baik PWI dan memecah – mecah persatuan wartawan di daerah. 

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-0000946.AH.01.08.TAHUN 2024 tentang Persetujuan Perubahan Perkumpulan Persatuan Wartawan Indonesia telah menetapkan Hendry Ch Bangun sebagai Ketua Umum PWI Pusat yang sah. Ini juga, bagian dari permintaan dari para kubu penentang yang di awal kemelut terus menuntut.

Adanya SK AHU PWI Pusat tersebut, ternyata tidak begitu mempengaruhi kubu penentang. Yang mereka inginkan Hendry Ch Bangun diturunkan dari Ketua Umum PWI Pusat. Padahal, pemilik suara sah dari PWI – PWI Provinsi masih memegang teguh hasil kongres tahun 2023 di Bandung, dan kekeh mengantarkan Hendry Ch Bangun hingga masa bakti berakhir.

Lalu apalagi yang mereka inginkan. Bukankah semua keinginan kubu penentang telah direalisasikan. Ataukah ada pihak yang sengaja ingin mencacah tubuh besar organisasi pers ini. Saya ikut sepakat. Sudah saatnya menyelamatkan PWI demi menjaga regenerasi dan eksistensi PWI tetap berlanjut ke depannya. (***)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)